Ads 468x60px

Kamis, 26 Desember 2013

GUNUNG RATU - LAMONGAN

MENELUSURI MAKAM DI GUNUNG RATU



Karena Hobby saya Lelono maka mendorong saya untuk Menelusuri ada apa di 
Gunung Ratu -  Lamongan. 
Saya dulu punya kumpulan di Wono Ayu Sambeng Lamongan yg di pimpin oleh Mbah Ipan

Mbah Ipan
 Ini foto saya ambil dari Ijasah saya

tapi saya di bonceng kadang ikut rombongan mobil teman jadi tahu saya tempat Perkumpulan ku saja.
Karenanya saya berangkat dari Surabaya menuju Dapur Lamongan - ke Tikung - 
ada Polsek Polisi belok kanan (terkenal sini Pasar Sapi ) terus ke Desa Kembangbahu -
 ke Sukobendu dari Desa Kembang Bahu sampai Desa SukoBendu waduh jalannya tetep tidak Berubah 
rusaknya padahal Lamongan sudah bagus jalannya dibangun tapi jalan daerah sini sangat
menyedihkan.

Tapi saya tidak putus asa jalan saya teruskan melewati WADUK GONDANG terus
melewati alas - alas dan persawahan satu ke yg lain yg jalannya belum mendapatkan jalan yg baik
Mungkin kalau tidak didasari Hoby rasanya malas jalan leWat sini akhirnya ketemu jalan besar
(perempatan) saya belok kiri baru ketemu jalan asPal walau jalannya tinggi tapi hAlus.

Akhirnya masuk desa NGIMBANG dan jalan mulai lurus dan sebelah kanan jalan ada 
Petunjuk Panah bertuliskan : "GUNUNG RATU" 

Dan Panah mengarah belok kiri jalan lewat sawah" dan ketemu pohon Beringin Besar kita
belok kanan terus jalan agak naik sedikit dan sampailah ke tempat Wisata Makam.
Sepeda Motor kita Parkir ke tempat Parkir Umum untuk Pengunjung Rp 2.000 / motor
 Kemudian kita naik tangga menuju Makam kurang lebih 100 meter.



Sampai di atas santai - santai dulu sambil melepaskan dahaga kita makan -makan dan minum Aqua
di balai-balai kecil dan tanggung yang disediakan untuk Pengunjung berIstirahat.
didepan balai tersebut ada Makam Kucing kesangan Ibunda Dewi Andong Sari ( Ibu Patih Gajah Mada )
yg di beri nama Makam Kucing CondroMowo.

NB : Jalan yg Baik Arah jalannya :
1. Sebetulnya Dapur (Mall Lamongan ) belok kiri - Ds Tikung ketemu Polsek jangan belok kanan
tapi lurus saja ke Mantup - ds Sambeng nanti ketemu : Ngimbang jalan besar belok kanan
sudah ketemu Arah Panah bertuliskan : " GUNUNG RATU"
Dari sini belok kanan.

 2. Yg dari Surabaya bisa lewat :
     Dari Pasar Kupang (pasar burung) atau dari Surabaya Industri ( Margo Mulyo )
     menuju Manukan - Benowo - Menganti - Benjeng - BalungPanggang terus
     notok pertigaan Jalan Mantup Lamongan dan ambil yg arah kekiri
     ikuti aja nanti ketemu desa SAMBENG ke Ngimbang belok kanan
     jalan pelan sambil lihat Papan Panah bertuliskan :"GUNUNG RATU"
     belok kanan.

Setelah Istirahat kita teruskan ke Juru Kunci yg namanya : Bpk Sulaiman yg Rajin dan bersih
baru ke Makam : Nyai Dewi Andong Sari ( Ibu Kandung Maha Patih Gajah Mada )





CERITA SINGKAT :

Menurut Mbah Sulaiman (juru kunci )inilah bukti fisik akan keberadaan asal usul Gajah Mada. Gunung atau biasa juga disebut bukit Ratu, dulunya merupakan petilasan dari Nyai Dewi Andong Sari yang diusir dari Majapahit karena iri hati dari permaisuri Dara Petak dan Dara Jingga karena dikhawatirkan memiliki seorang putra. Di bukit inilah tempat Dewi Andongsari menjalani hari-harinya sampai akhirnya melahirkan Joko Modo (Gajah Mada).

 Adanya peristiwa rencana pembunuhan terhadap Garwo Selir Raden Wijaya yang sedang mengandung yaitu Dewi Andong Sari sangat mungkin terjadi atas kehendak Putri Indreswari yaitu Dara Petak. Dara Petak adalah Putri Melayu yang datang ke Majapahit bukan atas kehendak sendiri, melainkan dibawa oleh Kebo Anabang (Pemimpin ekspedisi Pamalayu) sebagai putri rampasan sebab negerinya ditaklukkan oleh Singosari / Majapahit. Ketika ia melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Kalagemet (Jayanegara) tahun 1294 M. Ia sangat senang, sebab kedua anak Raden Wijaya permaisuri yang lain semuanya wanita yaitu : Diyah Tribhuana Tungga Dewi dan Diyah Wiyat Sri Raja Dewi. Dengan demikian cita-citanya pasti terwujud, sebab sepeninggal  Raden Wijaya tahta Kerajaan pasti jatuh ketangan anaknya.

Tapi perasaan gembira itu berubah jadi cemas setelah tahu Garwo Selir Raden Wijaya yaitu Dewi Andong Sari teryata hamil, jika nanti Dewi Andong Sari melahirkan anak laki-laki tentu akan jadi Batu sandungan bagi cita-citanya. Karena itu sebelum Dewi Andong Sari melahirkan ia harus segera  dilenyapkan.


Kisah berawal ketika pada suatu hari Desa Cancing kedatangan sekelompok prajurit Majapahit yang sedang mengiringkan istri selir Raden Wijaya yang sedang mengandung. Sekelompok prajurit tersebut mendapat tugas rahasia untuk menyingkirkan (mungkin membunuh) Dewi Andong Sari, tapi karena suatu hal Dewi Andong Sari tidak dibunuh melainkan hanya disembunyikan di desa Cancing yang terletak di dalam hutan jauh dari pusat pemerintahan majapahit (± 35 km arah barat laut dari Trowulan).
 Jalur desa tersebut dekat dengan jalur perjalanan Majapahit-Kadipaten Tuban.

Saat itu, desa tersebut dipimpin oleh Ki Gede Sidowayah yang juga mempunyai keahlian membuat senjata pusaka (Mpu). Setelah usia kandungan cukup maka lahirlah bayi laki-laki, tapi sayang Dewi Andong Sari tidak berumur panjang. Pada saat putranya masih kecil ia meninggal dunia dan dimakamkan di tempat tersembunyi yaitu di atas bukit dan di tengah rimbunnya hutan.Bukit itulah yang kemudian lebih dikenal dengan nama GUNUNG RATU.

Pernah pada suatu ketika, saat Gajah Mada masih bayi, Dewi Andongsari turun dari bukit hendak mengambil air di telaga (sendang) yang terletak di bawah bukit. Gajah Mada ditinggal sendirian, hanya ditemani kucing setia milik Dewi Andongsari. Pada saat itulah seekor ular hendak mematok Gajah Mada. Kucing milik Dewi Andongsari menghalanginya sehingga terjadi perkelahian. Si kucing berhasil menggigit ular hingga mati. Beberapa saat kemudian, Dewi Andongsari datang dan langsung melihat kucing yang mulutnya penuh darah. Dewi Andongsari menyangka bahwa kucing tersebut telah menggigit Gajah Mada. Kucing itu pun kemudian dia pukul. Tapi Dewi Andongsari pun kemudian tersadar ketika tak jauh dari bayinya, terlihat bangkai ular. Dewi Andongsari menyesal bukan main, apalagi tak lama kemudian kucing itupun mati.Sampai sekarang keberadaan telaga tersebut masih ada, demikian juga dengan tempat dikuburkannya kucing tersebut.

0 komentar:

Poskan Komentar